Monday, December 17, 2012

it has been five years!



Lima tahun sudah...

Saya tak pernah mengira bahwa perasaan ini akan bertahan begitu lama. Ya, walaupun kalau saya menyukai seseorang memang lama, tapi kali ini, rasa ini benar-benar berbeda. Biasanya ketika saya menyukai seseorang, setelah 2 tahun perasaan itu akan luntur dengan sendirinya. Awalnya, saya pikir hal ini juga akan terjadi pada perasaan saya terhadap anak kecil ini, tapi ternyata tahun ini percaya atau tidak ini adalah tahun kelima saya menunggunya.
Entah harus senang atau sedih saya tidak dapat benar-benar memastikan. Saya tidak pernah menyangka bahwa perasaan saya bisa tertarik pada anak kecil seperti anda. Walaupun memang umur kita hanya beda setahun, tapi tetap saja dimata saya anda tetap anak kecil. Sering terbersit dalam benak saya, “mengapa saya menyukai anak kecil ini?” bukankah saya sangat membencinya?” dan semua bermula dari kebencian yang sebenarnya bisa dibilang tanpa alasan. Karena saya tidak pernah benar-benar yakin apa alasan saya membenci anda, tapi inilah awalnya.
Ada pepatah lama yang mengatakan “benci dan cinta itu beda tipis” hmmm tampaknya saya harus mengakui pepatah itu benar adanya. Pada awalnya, saya tidak mau mengakui perasaan ini, tapi semakin lama..... tanpa tau kapan perasaan ini mulai tumbuh tapi yang saya tahu saya merasa kuat hanya dengan memastikan dia tetap ada dalam pikiran dan hati saya. Entahlah, mungkin sedikit naif tapi ini yang benar-benar saya rasakan sejak lima tahun lalu sampai saat ini. Ya, sampai saat ini...
17 DESEMBER 2007
Mungkin saya bisa mulai bercerita di mulai dari tanggal ini. Ya, ini adalah satu hari berselang setelah hari ulang tahun saya yang ke-15 tahun. Saat itu saya belum sedikitpun memikirkan anak kecil itu, tapi ada satu kejadian yang membuat saya kaget, heran dan malu pada diri saya sendiri. Bermula ketika saya ingin berangkat sekolah, tiba-tiba dia menawarkan untuk memberi tumpangan. Disitu jantung saya rasanya berhenti berdetak. Dalam hati saya mengatakan “bagaimana bisa? Dia orang yang saya benci bisa begitu baik?” saya sempat tertegun sebentar, sebelum tersadar dengan pertanyaannya yg kembali terulang “mau bareng ga?” dan saya memutuskan untu menerima tawarannya.
Semenjak hari itu, saya terus menerus memikirkannya. Saya pikir perasaan ini akan menghilang karena kebencian yang saya miliki cukup besar pada saat itu. Tapi entah mengapa justru saya semakin senang memikirkannya. Akhirnya saya pun memutuskan mengikuti kata hati dan biarkan semuanya mengalir... dan semejak hari itu saya terus-menerus memerhatikannya dari hari kehari. Setiap harinya saya selalu memandanginya dibalik jendela, menunggu dia pulang dan selalu tersenyum ketika melihatnya sudah berada didalam pengelihatan saya ((:
AGUSTUS 2008
Saat perayaan 17 Agustus, di tempat tinggal saya selalu mengadakan acara lomba yg diakhiri dengan malam puncak (semacam malam penghargaan) dan ini agustusan pertama yang saya alami dengan menyimpan perasaan padanya. Saya tidak benar-benar mengingat bagaimana saya mengajaknya ke dalam kepanitian tapi yang jelas dia ikut berpartisipasi pada acara ini. Pada tahun tersebut saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membuat konsep pembagian hadiah dibacakan seperti nominasi awrad yang sering diadakan di beberapa stasiun televisi. Kejahilan teman saya yang mengetahui perasaan saya terhadap anak kecil ini, sehingga memasangkan saya dengan dia dipanggung untuk membacakan award tersebut. Saat itu saya senang sekali, dan ya yang terpenting saya harus mengakui bahwa saya semakin menyukai anak kecil ini.
Oh iya, hampir aja lupa, tahu gak dibulan ini untuk pertama kalinya saya bisa berbicara lama bersama anak kecil ini. Awalnya dia dateng ke rumah saya hanya untuk menanyakan acara lomba buat besok gimana? Tapi lama-lama kita ngobrol banyak. Dan sampe sekarang saya masih inget gimana ekspresi muka capenya yang baru pulang terus mandi langsung ke ruma. Pada saat itu saya merasa sedikit bisa membaca dirinya, tapi belum berani menarik kesimpulan tentang pandangan yang saya dapat. :D

OKTOBER 2008
Pada tahun ini tuh lagi buming-bumingnya yang namanya friendster (fs) . Terkadang saya suka ke warnet cuma buat buka friendster aja. Kalau nggak salah ini terjadi pas tanggal 25 Oktober 2008, dimana ada seorang cewek yang nge-add akun fs saya. Karena itu dunia maya jadi siapapun yang nge-add pasti saya confrim. Setelah diconfrim saya bilang “makasih ya udah di add” dan percakapan menyedihkan itu dimulai! saya nggak begitu inget percakapnnya, tapi yang harus kalian tau cewek itu adalah pacarnya si anak kecil ini. What the hell maaaan!!! saya suka sama orang yang udah punya pacar? dan sialnya saya gak tau kalau dia udah punya pacar! parahnya lagi mereka pacaran udah hampir setahun.. seketika itu juga sya cuma bisa netesin air mata, padahal itu masih diwarnet dan saya sendirian, gak ada orang yang saya kenal disana..
Semenjak kejadian itu, saya perlahan-lahan menarik diri. Karena menurut saya tidak ada gunanya menyukai seseorang yang sudah mempunyai orang lain didalam hidupnya. Saya hanya akan membuang-buang waktu. Walaupun berat saya mencoba sedikit demi sedikit menghindar darinya, tidak lagi memperhatikannya dari balik jendela.

DESEMBER 2008
Setelah kejadian di bulan oktober, saya tidak begitu memperhatikannya lagi. Wlaupun sesekali masih suka memandanginya dari balik jendela, tapi saya mencoba mengatasi perasaan saya terhadapnya. Hal itu cukup berhasil, lambat laun saya mulai terbiasa melepaskannya. Sampai pada akhirnya dia putus dengan pacarnya. Haaaaaah? Dan saya pun nangis dengan derasnya!! “Kenapa putus?” “Kenapa harus sekarang?” “Kenapa setelah gua bersusah payah?” Hanya kata KENAPA dan KENAPA yang ada dibenak saya. Setelah dia tidak lagi punya pacar, saya mulai berharap kembali padanya.

JULI 2009
Kayaknya sih bulan ini dimana saya mulai bisa ngobrol deket lagi sama dia. Oh iya, saya belom bilang ya, kalau saya dan anak kecil itu punya kebiasaan unik. Kita deket menjelang agustusan doang. Setiap mau agustusan kita selalu bisa ngobrol kayak orang yang udah lama saling kenal. Tapi setelah agustusan berakhir ya, kita lagi-lagi kayak orang gak kenal. Dibulan ini saya dan temen-temen, minta dia jadi ketua Karang Taruna. Inget banget pada saat itu dia dengan keadaan lepek dateng ke rumah. haha baru pulang dan langsung diminta jadi ketua. Gak tau deh waktu itu dia mikir apa. :D

AGUSTUS 2009
Ini adalah awal bulan termanis semenjak saya menyukai orang ini. Ya, betapa tidak, ini untuk pertama kalinya saya berangkat bareng ke sekolah sama dia. Pokoknya ini bener-bener di luar prediksi. ya, bagaimana tidak, saya sedang menunggu angkot dan tiba-tiba dia datang dan menawarkan tumpangan. Entah apa yang saya pikirkan pada saat di motor, saya hanya tersenyum simpul dan mencoba mengatasi perasaan saya, takut dia membaca raut wajah saya yang aneh. Hmmmm hari itu saya mulai dengan senyuman yang tak henti, rasa senang bercampur rasa tidak percaya semakin menyinggungkan senyum.
Karena hari itu pertandingan bulu tangkis akan dilaksanakan pada malam harinya, sebelum pulang sekolah saya sempat bertemu lagi dengan anak kecil itu. Saya mengingatkan “nanti malem ya” dan dia tersenyum kecil. Ketika malam hari dia tak kunjung datang, saya coba menghubunginya dan akhirnya dia datang. Sebenarnya saya tidak tega membiarkannya main. karna bagaimana tidak, melihat orang yang kita sayang lelah setelah melakukan aktivitas seharian harus bermain bulu tangkis pada malam harinya. Tapi saya harus mengenyampingkan perasaan saya pada saat itu. Maaf dan terimakasih, kata-kata itu hanya saya dengungkan dalam hati tanpa bisa mengucapkannya langsung.

Senin, 3 Agustus 2009, ya saya ingat betul hari itu. Ini untuk pertama kalinya saya pergi dengan anak kecil itu. Kami berencana untuk mencetak pin, sebagai nametag kepanitian tujuh belasan. Hari itu saya menunggu-nunggu agar jam berlalu begitu cepat, agar saya bisa cepat pergi dengannya. Tapi hari itu, saya dibuat sangat kesal olehnya. Ya betapa tidak, saya menunggunya dan tidak ada sms masuk untuk setidaknya memberikan kabar. Akhirnya saya putuskan menunggunya di kelas dekat lapangan futsal. Saya memberanikan diri untuk mencoba mengirimkannya pesan singkat. Saya menanyakan “jadi atau tidak untuk mencetak pin.” Jawaban yang saya dapat tak kalah mengecewakan, karna dia masih menanyakan “mau nyetak dimana?” Dan saya menjawab dengan nada agak ketus (kalau ngomong langsung sih pasti nadanya ketus) “kan kemaren gua udh bilang di UI” tanpa membalas pesan saya, tiba-tiba dia sudah berada diparkiran motor. Parkiran motor terlihat jelas dari tempat saya menunggu, dia sudah melihat saya. Dia menggerakan kepalanya sebagai tanda untuk meminta saya turun. Masih dengan perasaan kesal, sambil menggerutu, saya mulai memakai tas dan berlari kecil menghampirinya.

Setelah samapai dihadapannya saya merasa sedikit canggung. Rasa kesal yang masih tersisa membuat saya tidak begitu memperhatikannya. Saya menanyakan, “bawa helm dua?” Dia hanya menggelengkan kepalanya, dan kekesalan saya pun semakin bertambah. Didalam hati saya meradang “astaga orang ini benar-benar menyebalkan” saya mencoba mengontrol nada suara saya, agar tidak terdengar kesal, saya hanya bertanya “gpp gak pake helm?” dan dia menganggukan kepala. Okey, saya mulai menaiki motornya dan kita pergi. Baru sebentar berjalan, saya yang sedikit melamun tersadar akan teriakan yang memanggil nama saya “diniii” dan saya terkaget. Ternyata  anak kecil ini yang memanggil nama saya begitu keras. Mungkin dia sudah memanggil-manggil beberapa kali, tapi saya tidak mendengarnya. Saya sempat tersenyum sedikit sebelum kembali kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan. “Kitama kemana nih?” Dengan nada yang agak berubah saya menjawab “kan tadi udah bilang mau ke UI” dan dia nanya lagi “nggak ada tempat yang lebih deket?”makin kesal saya dibuatnya “gua gak tau! Tapi klo lo tau yang lebih deket yaudah kesitu aja” dan dengan polos dia berkata “gua juga gak tau, yaudah ke UI aja” melihat dia sedikit melunak saya berkata “Eh tapi kata temen gua ada di deket bolo-bolo beiji, lo tau?” Dia hanya menganggukan kepala.
Sesampainya di bolo-bolo beiji dia hanya menunjukan ini bolo-bolo tanpa menghentikan laju motornya. Dan saya pun hanya tersenyum dan sepertinya dia tidak mau berhenti disitu. Dan kami melanjutkan perjalanan sampai ke stasiun UI. Saya tidak tahu pasti tempat untuk mencetak pin itu berada dimana. Akhirnya saya menemukan tempat mencetak pin, dan ternyata pinnya gak bisa ditungguin, harus diambil besok. Tiba-tiba saya refleks hanya melihat wajahnya dan seketika itu juga dia bilang “kenapa ngeliatin gua?” terus siapa yang mau ngambil? “emang anak perlengkapannya gak ada?” belom sempet saya menjawab dia langsung nanya “emangnya diambil kapan?” besok, bisa ga? “yaudah” dengan muka yang ikhlas gak ikhlas kayaknya, tapi gua seneng liat ekspresi mukanya yang kayak gitu.. hehe 

Setelah selesai di tempat pembuatan pin, kami pun langsung kembali ketempat parkiran motor, tapi sebelum sampai ketempat parkiran motor ada satu kejadian yang sampai saat ini hal itu masih seperti mimpi. Kejadian seperti ini saya pikir hanya ada di film-film, ya percaya atau tidak saya mengalaminya. Jadi, kita memarkir motor di sebuah stasiun, kami melewati rel untuk mencapai tempat pembuatan pin. Ketika kami ingin kembali ke tempat parkir motor, ada sebuah kereta yang sudah siap melintas. Bel sudah berbunyi, saya memutuskan untuk menghentikan langkah, karena saya menggunakan rok panjang saya takut kalau keserimpet saat berlari. Tapi dia bergegas sambil berlari menyebrangi kereta itu, dan alhasil kami ada di dua sisi yang berbeda. Sambil menyimpulkan senyum kecil dia bilang “ayoo”, tapi saya tetap tidak berani, saya membalas dengan senyuman kecil dan gelengan kepala sambil melihat kearah kereta yang siap melaju. Kereta pun melaju, kami pun berada di tempat yang berbeda, dia menunggu saya disebrang sana, dan saya hanya tersenyum tak percaya bawa kejadian ini ternyata bisa saya alami bersama anak kecil ini ((:

Kereta terasa begitu cepat melaju, dan menyadarkan saya dari lamunan lucu memikirkan tentang hal itu. Setelah itu kami pun jalan bersama lagi menuju tempat parkir, dan disitu ada pertanyaan saya yang sangat aneh dan seharusnya tak perlu saya tanyakan terhadapnya. “bayar parkir seribu kan ya?” dan dia bilang “iya”, dan saya pun menyahut “yaudah pake ini aja” sontak diapun berkata “gua ada kali” dan disitu saya baru sadar bahwa kata-kata tersebut tak seharusnya saya tanyakan. Harusnya saya langsung aja bayar parkir tanpa harus menanyakan hal yg sedikit bodoh -___-

Mungkin hari ini memang hari dimana kenangan-kenangan akan terukir, bagaimana tidak ada saja kejadian yang membuat saya semakin tersipu.  Pada saat saya mau menaiki motornya, mungkin dia belum siap, tapi saya sudah memberikan kode dengan memegang pundaknya, kami hampir jatuh, untung saja dia masih bisa menahan motornya. Saya pun langsung minta maaf “sorry-sorry, kirain udah siap” dan dia menjawab “eh gpp kok,.......” saya tidak betul-betul mengingat dialognya tapi jawabannya membuat saya tenang. Sepanjang perjalanan kembali ke sekolah, kami tidak terlalu banyak mengobrol. Hanya sesekali dan itu tidak begitu penting, hanya menanyakan mau kemana lagi, rasanya saya mau menjawaaaab..... hahaha... tapi sesampainya disekolah, sifatnya kembali berubah. Seolah seperti orang yang tidak saling mengenal dia meninggalkan saya dan berlalu begitu saja. Saat itu saya mencoba untuk tetap tersenyum, setidaknya saya sudah menghabiskan sedikit waktu bersamanya ((‘:

Selama bulan agustus ini saya banyak menghabiskan waktu bersama dengannya, walaupun kebersamaan kami memang untuk keperluan kepanitian tujuh belasan saja, tapi itu sudah cukup berarti untuk saya. Pada saat menjelang perayaan malam puncak, panitia berencana membuat suatu apresiasi seni. Dan akhirnya pada kesempatan ini saya bisa bernyanyi bersamanya, dia bermain gitar dan saya bernyanyi. Memang tidak benar-benar berdua, tapi saya sangat menikmati ketika dia memainkan alunan gitar. Rasanya malam itu, saya tidak ingin mengakhirinya. Saya ingin malam itu berhenti, tapi saya tidak dapat menghentikan waktu. Seperti biasanya, setiap acara selesai ketika kami bertemu diluar, terkadang ada satu benteng yang membatasi. Kami seperti orang yang tak saling mengenal. Entah mengapa hal ini selalu terjadi, padahal saya ingin sekali bisa berteman dengannya dan mengenalnya lebih baik. Tapi mungkin s aya hanya bisa mengenalnya dengan cara seperti ini, dengan sikap yang sepertinya memberi arti, tapi saya tak pernah mengetahui arti sikapnya.

SEPTEMBER 2009
Kalau tidak salah mengingat dibulan ini ada acara pembubaran panitia di rumah saya. Acaranya memang hanya bakar-bakar, tapi karena pada saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan kami baru memulai acara sehabis sholat teraweh. Tadinya saya berpikir dia tidak akan datang, karena sore harinya saya melihat dia pergi. Perasaan sedih langsung datang menghampiri dan hanya bisa berharap bahwa dia akan kembali sebelum kami selesai melakukan acara bakar-bakar. Dan akhirnya rasa sedih berganti dengan senyum yang tersimpul diwajah saya, karena melihat dia sudah datang ke rumah saya sebelum yang lain datang. Acara bakar-bakar pun dimulai dan dia dan teman saya yang membakar ayam-ayam tersebut. Melihatnya seperti itu, rasanya dia seperti koki ahli yang sedang mempraktekan cara masak hehe.. setelah selesai maka, tiba-tiba kami semua membicarakan hal-hal yang horor. Tak berapa lama, tiba-tiba dia berdiri dan berkata akan pulang sebentar, tetapi pada akhirnya dia tak kembali. Hmmmmm tapi saya sudah merasa senang bahwa dia bisa datang ke rumah saya.

Setelah saat itu kami kembali seperti orang yg tidak saling mengenal. Yeah, like stranger for each other ((‘:

MARET 2010
Siapa yang akan menyangka bahwa saya bisa mengucapkan “happy birthday” secara langsung kepada anak kecil ini. Ya, 13 Maret itu adalah tanggal lahirnya. Pada saat itu, saya terkejut dia datang ke sekolah, karena itu adalah hari sabtu, dimana setiap hari sabtu sekolah diliburkan. Tetapi untuk anak kelas XII hari itu ada motivasi menjelang UN. Pada saat itu saya sedang duduk di kelas XII dan dia di kelas XI. Saya melihat dari kejauhan bagaimana dia sedang bersama teman-temannya. Dengan baju yang basah, entah basah habis diceburun ke kali (kebiasan sebagian sisawa-siswa sekolah kami kalau ada yang ulang tahun diceburin ke kali di sebelah sekolah) atau hanya disiram dengan air oleh teman-temannya. Sambil berjalan menuju kantin, saya memerhatikannya dan bingung harus bagaimana, apa harus mengucapkan ulang tahun atau berlalu tanpa mengucapkan apapun. Tapi saat saya berjalan dia melihat saya dan melemparkan senyuman, saya tersenyum dan langsung memberikannya selamat atas hari jadinya, kami pun berjabat tangan. Mungkin ini jabat tangan yang pertama kali dengannya...

Sepanjang tahun 2010 tidak ada kejadian yang begitu spesial anatara saya dengannya, kita sama-sama menjalani hari dengan kesibukan masing-masing dan seperti biasa seperti orang yang tidak saling mengenal. Karena pada saat itu saya juga sedang sibuk mempersiapkan UN, pikiran saya sedikit terlupa terhadapnya. Setelah lulus dari sekolah menengah akhir intensitas pertemuan saya dan dia pun semakin berkurang, walaupun rumah saya dan dia berdekatan tapi kami justru jarang bertemu dirumah. Terlebih lagi saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke daerah Jakarta Barat yang mengharuskan saya tidak tinggal di rumah. Semenjak saat itu, sulit sekali saya bisa bertemu dengannya, mengetahui kabarnya itu menjadi hal yang sulit.

Sampai akhirnya sekitar bulan september atau oktober di tahun ini dia kembali mempunyai pacar. entah dapet ilham dan keinginan dari mana, pagi-pagi sekali saya ingin sekali membuka akun facebook nya. Dan disitu tertera ..... is in a relationship with ..... dan meneteslah air mata saya seketika itu juga. Menangis terisak-isak dipagi hari dan menahan perasaan sakit yang amat sangaaat! Saya memeluk bantal dengan erat sambil meradang “kenapa harus buka fb nya pagi-pagi?” “kenapa harus tau itu sekarang?” “dan kenapa rasanya sakit banget?” “dia itu bukan siapa-siapa lo din! Lo gak berhak untuk marah dan merasa seperti ini” tanpa bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan saya, saya hanya terus menangis dan menangis. Saya mencoba menghentikan air mata saya dan berusa tidak terlihat jika habis menangis. Karena saya harus berangkat kuliah, dan saya tidak ingin terlihat sedih. Tapi saya tidak berhasil, di kampus saya seperti orang yang tidak punya semangat, hal itu benar-benar membuat saya merasa sangat lemah. 

Saya terus mencoba menguatkan hati saya, hampir setiap malam saya menangis, tetapi saya bukan tanpa usaha untuk tidak memikirkan hal itu. Namun apa daya, saya tidak mempunyai cukup daya untuk menghilangkan ingatan saya tentang anak kecil itu. Saya berusa sekuat tenaga untuk perlahan-lahan mulai melupakannya dengan mengambil kesibukan di luar dan menghindari waktu untuk sendiri. Karena semakin lama saya sendirian, ingatan saya tentang anak kecil itu semakin menyiksa.

Hampir sebulan berselang setelah saya mengetahui tentang hal itu, saya sedikit lebih tegar dan mencoba benar-benar menghadapi bahwa saya tidak boleh berhenti seperti ini. Saya harus bisa melanjutkan semuanya, dia tidak boleh membuat saya seperti ini. Perlahan-lahan saya memulai dari hal kecil dulu, saya tidak boleh membuka akun facebook dan twitternya, walaupun terkadang hal itu berat saya coba untuk menghindarinya. Saya tidak mencoba mencari tahu keadaannyanya, menanyakan bagaimana pacarnya saya mencoba membenahi diri saya sendiri dahulu. Saya sudah agak kuat untuk menghadapi diri saya sendiri. Pas sekali pada saat itu band cokelat mengeluarkan single tanpa rasa dan liriknya sungguh memotivasi saya untuk bangkit. Saya menuliskan penggalan liriknya di status akun facebook saya “tak ada lagi sedih untuk kehilanganmu, tak ada lagi tangis untuk dirimu, tak akan ada benci kepadamu semua tentang dirimu semua telah berlalu” saya menuliskan itu semua dengan penuh percaya diri dan mulai tersenyum, kembali bangkit menata hidup tanpa harus memikirkannya. Setelah itu saya mencoba memberanikan diri untuk kembali membuka akun facebooknya, saya ingin menguji apakah hati saya benar-benar kuat. Tetapi alih-alih saya menguji diri saya sendiri justru dia yang kembali membuat runtuh dengan semua upaya saya. Di akun facebook nya tertera “....... is single” saya kembali tertegun beberapa saat, tak sadar air mata saya terus mengalir dengan derasnya. Tidak tahu apa yang saya pikirkan tetapi yang pasti saya sedang menangisi diri saya sendiri karena terus menerus dipermainkan oleh jalan hidup. Ingin rasanya berteriak, dan berlari kearahnya dan berkata sekencang-kencangnya “kenapaaaaa harus putuuuuus lagi???? Kenapa sekarang? Kenapa gak nanti-nati aja ketika gua udah bener-bener bisa gak mikirin lo lagi? Kenapa? Kenapa? Dan kenapaaaaaaa lo seneng banget bikin gua terlihat lemaaaah?” kembali, kata-kata itu hanya berada dibenak saya semata tanpa bisa saya ungkapkan kepadanya. 

Saya terus mengatur emosi kekesalan saya terhadap apa yang terjadi. Entah harus marah kepada siapa, entah harus melampiaskan kemana rasa kecewa yang terus berkecamuk. Sesaknya melebihi rasa sesak ketika saya tahu dia mempunyai pacar. tapi saya tetap perempuan lemah yang masih gampang terbawa suasana. Pelajaran hidup yang terus datang bertubi-tubi tidak begitu siap saya terima, padahal seharusnya jika saya siap pasti saya tidak akan merasa sekesal ini.
Hari pun saya lalui dengan membiarkan perasaan saya mengalir kemanapun dia mau, memikirkan apapun yang pikiran saya mau tanpa mencoba berusaha untuk menghalanginya.

2011...
Pada awal tahun 2011 saya mencoba mencari tahu nomer telponnya kepada adik kelas saya. Ketika saya sudah mendapat nomernya, saya bingngung harus berbuat apa. Pada akhirnya keberanian saya muncul untuk mengirimkan pesan singkat ke nomer tersebut. Ini percakapannya:
Me: apa kabar ..?
He: baik. Maaf ini siapa?
Me: ini dini. Gimana persiapan UN nya?
He: dini yang mana nih? Lagi proses hehe
Me: dini dpan rumah .. oh gitu, semangat ya. Semoga lancar UN nya. Lo mau masuk mana?
He: haha iya makasih. Teknik mesin UI din doain ya
Me: amin. Semoga lulus ya  tp bukannya lo pernah cerita mau masuk arsitektur ITB ya? Ko ga jd?
He: amin. Iya tadinya, tp dipikir pikir prospek kerjanya lebih bagus mesin ya mudah2an deh ada jalan
Me: oh gitu.. semoga dikasih yang terbaik..
Keberanian yang muncul hanya sebatas menanyakan kabar dan mennayakan hal yang sedikit klise. Saya bingung bagaimana memulai percakapan, takut dia sedang tidak ingin membicarakan sesuatu. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mencoba memberi pesan sampai akhirnya saya beranikan diri lagi pada saat ulang tahunnya.
“happy birthday ...... best wishes, may Allah bless you ” saya mengirimkan pesan itu tengah malam dan dia baru membalas di pagi hari “Thanks ya amiin” dan saya hanya membalas “samasama ...
Setelah itu tak banyak hal yang terjadi, saya sibuk dengan kegiatan saya dikampus dan tidak mencoba untuk memberikannya sms. 

MEI 2011
Pada saat itu saya sedang sibuk mengurusi satu acara gathering. Disuatu malam, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya tentang acara tersebut. Saya tidak begitu mengingat bagaimana awalnya tapi ada kata-kata teman saya yang bilang “gimana mau tau kalau gak pernah dikasih tau, walaupun udah dikasih tanda, dia gak akan pernah tau kalau gak kita yang bilang” dan saya juga lupa kata-kata itu buat siapa. Saya memikirkannya sepanjang malam, saya memikirkan anak kecil itu. Saya terus menggumam “dia tau gak ya? Tapi kan harusnya dia tahu. Masa sih gak peka, gua kan udah nunjukin masa harus dikasih tau juga” dan akhirnya jemari ini mulai mengetik kata-kata di kotak membuat pesan di handphone:
“entahlah, sbenarnya sata tepat atau tidak mengatakan hal ini skarang. Saya hanya manusia biasa yg bisa merasakan cinta. Dan anda tau? Rasa itu ternyata saya rasakan pada anda. Saya hanya brmaksud untuk membuat suasana hati saya lega, karena sepertinya saya tidak kuat lagi memendamnya. Lebih dari 3th saya menahan perasaan ini, dan akhirnya hari ini saya harus mengatakannya, karena saya tak ingin lg berharap pada khayalan belaka. Anda boleh langsung menghapus pesan ini, maaf apabila saya mengatakan ini diwaktu yg kurang tepat. Mungkin dengan begini saya akan lebih mudah melupakan anda, karena mungkin kita tak akan pernah bersama. Sukses ya buat semuanya, semoga selalu diberikan yg terbaik. Sekali lagi saya minta maaf bila hal ini membuat anda tidak nyaman.

Saya terus memegangi handphone saya dan terus memandangi tombol kirim. Sempat lama saya memikirkannya, karena pasti setiap yang dilakukan pasti ada konsekuensinya. Akhirnya setelah lama memikirkannya, saya memutuskan untuk menakan tombol kirim. Padahal jam sudah menunjukan hampir jam 11 malam. Saya menunggu balasan pesan saya tersebut hingga tengah malam, tapi saya tidak kuat dan akhirnya saya memutuskan untuk tidur.
Dan pagi harinya ada sms masuk darinya, awalnya saya ragu untuk membukanya. Menerka-nerka apa yang akan dia katakan tentang hal itu tapi ini konsekuensinya bukan? Jadi apapun balasannya saya harus siap...

“amin, sama sama semoga lo juga sukses ya! Yang bikin gue gak nyaman gue ga tau kalo lo ini berjenis kelamin apa? Kan kalo laki berabe hehe *becanda oke makasih ya”

Melihat balsannya yang seperti itu saya tidak memikirkan apapun kecuali mungkin perasaan hatinya sedang senang. Saya sempat bingung, apakah pesan itu harus saya balas atau tidak. Tapi saya mungkin memutuskan hal yang salah, saya membalas pesannya dengan pertanyaan yang sala. Sampai saat ini saya masih menyesalinya, harusnya pada saat itu saya tidak perlu menanyakannya lagi.

”haha ya kali klo laki gua sms kaya gitu -,- sorry ya klo emang lo ngerasa beneran ga nyaman.. oh iya, lo tau kan gua siapa? Hehe”

Pertanyaan yang terakhir itu yang sampe sekarang gua sesali. Kenapa gua harus benar-benar memastikan klo dia tau itu gua? astagaaaaa kenapa dan kenapaaaa? Yasudahlah nasi sudah menjadi bubur san tak akan pernah mungkin saya bisa menarik pertanyaan itu. Dia pun juga tidak membalas. Pertama kali saya bertemu setelah saya mengirim pesan ini dia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun. Dan saya pun memutuskan untuk tidak memikirkannya, karna lagi-lagi ini adalah konsekuensinya.

Awalnya saya pikir hal ini akan mudah, karna membiarkan dia tahu mungkin akan cepat untuk saya melupakannya. Tapi ternyata saya salah, semakin saya mencoba melupakannya justru semakin sering saya mengingatnya. Setelah itu kembali saya hanya membiarkan perasaan saya, karna ternyata cara seperti ini juga tak berhasil mengeluarkannya dari dalam hati.

Tahun ini pun tidak banyak hal yang saya alami bersamanya, hanya memandangi dan memperhatikan segala akun social network-nya dan berharap sekaligus berdoa. Ya hanya itu yang bisa saya lakukan, karena saya tak punya cukup keberanian untuk melakukan hal yang lain.

2012
Mengawali tahun 2012, saya tetap berusaha untuk melupakannya, tapi itu tetap menjadi hal yang sulit bagi saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikan hadiah di ulang tahunnya nanti. Saya memikirkan hadiah apa yang ingin saya berikan, sebenarnya hal ini sudah ingin saya lakukan pada ulang tahunnya yang ke-17, tapi saya urungkan karna saya belum siap. akhirnya saya memutuskan menghadiahhinya sebuah stik drum. Kebetulan teman saya mempunyai kenalan yang biasa membuat stik drum. Stik drum tersebut bisa dipesan sesuai keinginan. Sempat bingung mau diberi motif apa, akhirnya saya hanya menuliskan namanya dalam stik tersebut ........ ((: 

Setelah memesan stik tersebut, saya pun merasa heran kenapa saya melakukan hal tersebut. Karena pada saat saya memesan stik tersebut, saya belum tahu bagaimana caranya memberikan stik tersebut kepadanya. Tapi hal itu akan saya pikirkan nanti, karna kalau tidak pernah dicoba saya tidak akan pernah bisa melakukannya. Karena lain waktu belum tentu ada kesempatan yang sama. Pada saat hari ulang tahunnya saya mengucapkan selamat ulang tahun lewat akun twitternya, dan yang membuat saya sedih dia tidak membalasnya. Tapi untuk apa bersedih? Toh dia bahagia bersama teman-temannya.

Stik yang saya pesan pun datang. Ketika stik itu sudah berada ditangan saya, saya hanya memandangi stik itu lekat-lekat. Percaya atau tidak saya sudah memesannya dan stiknya sudah ada didepan mata. Hanya satu yang terbersit, bagaimana saya akan memberikannya? Sempat terpikir untuk mengirimkannya lewat pos, tapi kalau yang menerima ibu nya justru akan menambah masalah baru. Saya punya waktu sekitar satu minggu memikirkan bagaimana cara memberikan stik tersebut, karena seminggu kemudian saya akan pulang kerumah dan tentunya saya harus memberikan stik tersebut bagaimana puun caranya. 

Akhirnya hari itu pun tiba, di penghujung bulan maret, tepat tanggal 31. Padahal ulang tahunnya tanggal 13, tapi saya baru bisa pulang di akhir bulan. Saya masih bingung bagaimana memberikannya, karena saya belum mempunyai kotak untuk menaruh stik tersebut. Saya sudah mencoba mencarinya, tetapi sulit untuk mendapatkan kotak sepanjang itu. Akhirnya saya mengajak teman saya untuk mencari kotak didaerah depok, dan saya tidak menemukannya. Sampai pukul 7 malam saya masih belum menemukannya, saya putuskan untuk pergi, tanpa tahu mau kemana, saya pergi mencari tempat pembuatan kertas kado. Akhirnya saya menemukan tempatnya, dan saya memohon kepada penjaga tersebut agar mau membuatkannya. Setelah itu saya menyelipkan sebuah surat didalamnya, saya lupa bagaimana persisnya isi surat tersebut, tapi maksudnya hanya memberikan hadiah padanya.
Saya menunggunya, jam menunjukan pukul 10 malam dia belum juga pulang. Saya menunggunya di teras rumah, agar saat dia pulang saya bisa langsung menghampirinya. Saat itu jam terasa begitu lama, saya terus bolak balik tak kunjung ada tanda-tanda dia akan kembali. Sambil terkantuk-kantuk saya menungguinya didepan rumah, untung saat itu orang tua saya sudah tidur jadi tidak ada yang mencurigai kecemasan saya. Akhirnya sebelum jam 12 malam dia pulang, saat dia membuka pintu pagar dan memasukan motor ke dalam saya bergegas menghampirinya. Sebelum dia menutup pintu pagar, saya memanggilnya padahal kalau saja degup jantung saya bisa terdengar itu akan terdengar sangat keras dan sangat cepat. 

Happy birthday ya, maaf telat. “iya makasih” nih, sambil menyodorkan bungkusan yang sudah saya bawa. “apaan nih? Kado?” iya, sambil tersenyum saya menjawabnya.. karna tak kuat terlalu lama memandangnya, saya putuskan untuk segera kembali ke rumah sebelum ada orang yang menyadari. Beruntung saya pergi tepat waktu, karena tak lama berselang mamanya pulang. Rasa lega sesaat datang tapi diikuti dengan rasa kegelisahan saya. Saya tidak pernah tahu bagaimana dia akan bersikap setelah saya memberikan itu.
Keesokan harinya, saya memandangi rumahnya, berharap dia akan keluar dan menyapa saya dengan nada yang lembut seperti yang dia lakukan pada tadi malam. Saya duduk di teras rumah sambil mengerjakan sesuatu, padahal tujuan utama adalah melihatnya keluar. Sempat muncul sebuah senyum ketika melihat dia keluar mengeluarkan motor, tapi tak lama senyum itu berubah menjadi sebuah kegelisahan yang sampai saat ini belum bisa saya jawab. Dia menatap saya lekat-lekat seperti orang yang penuh rasa benci, setelah menatap saya dengan tatapan tajamnya itu dia langsung berlalu. Saat itu hati saya gelisah, takut dan terus mencari jawaban akan sikapnya tersebut. Saya mengingat-ngingat apakah surat yang saya selipkan didalam kado tersebut membuatnya bersikap seperti itu, atau dia tidak menyukai kado yang saya berikan. Saya tak bisa menemukan jawaban apapun, sampai saat ini, ya sampai saat ini.
Tak lama berselang, kira-kira sebulan setelah saya memberikan kado itu, ada hal yang membuat saya sangat-sangat terkejut dan tidak habis pikir. Akun twitter pribadinya mem-block akun twitter saya. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, tapi hati saya terasa sangat sakit dan tidak bisa berpikir apapun. Air mata bergulir di sudut mata, karena tak kuat menahan sakitnya. KENAPA? SALAH APA GUA? hal itu yang muncul terus menerus. Saya begitu kesal, marah dan ingin sekali membenci anak kecil ini. Saya memang berhasil beberapa saat untuk tidak memerhatikannya, tapi hal itu tak bertahan lama.. karena semakin saya mencoba untuk membenci saya sadar bahwa saya makin menyukai anak ini. Saya biarkan, lagi-lagi saya begitu lemah menghadapi anak ini.

Saya ingin sedikit membahas tentang seseorang yang masuk disela-sela penantian saya kepada anak kecil ini. Entah berawal dari mana, tetapi tiba-tiba orang ini sudah berada didalam hati saya. Kita sebut saja dia pria idealis. Dua tulisan di blog saya sempat membahas tentang orang ini, sebenarnya orang ini bukan orang baru di hidup saya. Dia teman seperjuangan saya di suatu organisasi. Saya sempat kaget karena saya menyukai orang ini, tapi saya menikmatinya saja. Awalnya hanya suka dan tertarik kepadanya, hanya ingin dekat dengannya hal itu sudah cukup. Tapi pada saat itu perasaan saya terhadap anak kecil itu terlalu kuat sehingga menutupi rasa suka saya terhadapnya.

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa lebih baik saya melanjutkan untuk menunggunya saja. Tapi kembali anak kecil ini membuat satu masalah dengan saya. Akun band nya mem-block saya. Saya hanya ingin bertanya, apa mungkin orang lain yang mem-bloock akun twitter saya selain dia? Saya tidak begitu mengenal teman-teman band nya, jadi siapa lagi kalau bukan dia? Kali ini saya tidak menangis, tapi saya sangat-sangat marah. Saya tidak habis pikir dengan jalan pikirnya sampai bisa melakukan hal itu, entah apa karena umurnya yang memang masih labil atau apa tapi pada saat itu saya benar-benar emosi dan tidak mau lagi tahu segala tentangnya dan kalau bisa tidak ingin pernah bertemu dengan orang seperti ini lagi.

Setelah kejadian itu, saya benar-benar menata hidup saya pelan-pelan. Sungguh saya tidak ingin merasa sakit lagi karena anak ini, saya lelah saya lelah. Sayapun tak mampu berbuat apa-apa karena lagi-lagi saya tidak bisa berkomunikasi dengan dia. Jadi mana mungkin bisa saya menanyakan kenapa dia melakukan semua ini. Karena pada saat itu saya juga memiliki sedikit perasaan kepada pria idealis, saya mencoba untuk memupuk perasaan saya kepada orang itu. Awalnya memang saya berharap banyak padanya, tapi ternyata dia hanya membuat saya semakin dalam menyadari bahwa saya memang sangat-sangat menyayangi anak kecil itu.

Hati saya semakin lirih bergetar ketika mengetahui anak kecil ini pindah kuliah ketempat yang dekat dengan kampus saya. Kawasannya masih satu regional, kami sama-sama berkuliah di daerah Jakarta Barat. Kembali beberapa pertanyaan muncul dibenak saya dan lagi, saya tak mampu menemukan jawaban apapun.
Lagi-lagi hati saya selalu membuat pengecualian terhadap anak kecil ini. Entah karena memang sudah mati rasa, terlalu lemah atau apapun itu yang jelas seberapa keras saya mencoba melupakan justru saya semakin mengingatnya.mencoba untuk membenci tapi justru saya semakin menyadari ketika saya membencinya saya justru semakin menyayanginya. Tak pernah saya mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan semua sikapnya. Tak pernah saya tahu bagaimana sebenarnya perasaan dia terhadap saya. Kalau ada kesempatan saya ingin sekali menanyakan semua pertanyaan saya, walaupun jawabannya menyakitkan, hal itu akan terasa lebih baik dibanding hanya meraba tanpa kejelasan.

Hari ini 17 Desember 2012 tepat lima tahun sudah saya menantinya. Belum ada rasa ingin menyerah walaupun terkadang rasa lelah dan sakit terue menerus datang, tapi tampaknya hati saya masih mau menunggu untuknya. Saya memang tak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya saya tunggu, mengapa saya menunggu saya tak pernah tahu dengan benar apa alasannya. Tapi saya menjadi kuat dengan mengetahui bahwa anak kecil itu masih ada didalam hati saya. Entah seberapa lama lagi saya dapat menunggu, saya tak pernah tahu apa yang terjadi nantinya, saat ini saya hanya menjalani apa yang benar-benar saya rasakan saja. Buat saya tak masalah untuk tetap menunggu, ya walaupun terkadang saya masih suka mengeluh, tapi saya hanya manusia biasa jadi ketika rasa lelah datang menghampiri, saya hanya bisa mengeluh. Tapi saat ini tidak lagi, walaupun sebenarnya saya cukup kecewa, tahun ini dia lagi-lagi tak pernah mengucapkan kata selamat ulang tahun kepada saya. Tapi, ini jalan yang saya pilih bukan? Jadi saya harus siap menanggung semuanya.

Semoga suatu saat akan ada jalannya untuk kita bersama, dan semoga untuk selamanya, ya selama saya masih bernafas di alam yang fana ini.

Today I love you more than yesterday
Tomorrow I will love you more than today
I love you more and more every day


I love you little boy, MRA ((:


No comments:

Post a Comment