Lima tahun
sudah...
Saya tak
pernah mengira bahwa perasaan ini akan bertahan begitu lama. Ya, walaupun kalau
saya menyukai seseorang memang lama, tapi kali ini, rasa ini benar-benar
berbeda. Biasanya ketika saya menyukai seseorang, setelah 2 tahun perasaan itu
akan luntur dengan sendirinya. Awalnya, saya pikir hal ini juga akan terjadi
pada perasaan saya terhadap anak kecil ini, tapi ternyata tahun ini percaya
atau tidak ini adalah tahun kelima saya menunggunya.
Entah harus
senang atau sedih saya tidak dapat benar-benar memastikan. Saya tidak pernah
menyangka bahwa perasaan saya bisa tertarik pada anak kecil seperti anda.
Walaupun memang umur kita hanya beda setahun, tapi tetap saja dimata saya anda
tetap anak kecil. Sering terbersit dalam benak saya, “mengapa saya menyukai
anak kecil ini?” bukankah saya sangat membencinya?” dan semua bermula dari
kebencian yang sebenarnya bisa dibilang tanpa alasan. Karena saya tidak pernah
benar-benar yakin apa alasan saya membenci anda, tapi inilah awalnya.
Ada pepatah
lama yang mengatakan “benci dan cinta itu beda tipis” hmmm tampaknya saya harus
mengakui pepatah itu benar adanya. Pada awalnya, saya tidak mau mengakui
perasaan ini, tapi semakin lama..... tanpa tau kapan perasaan ini mulai tumbuh
tapi yang saya tahu saya merasa kuat hanya dengan memastikan dia tetap ada
dalam pikiran dan hati saya. Entahlah, mungkin sedikit naif tapi ini yang
benar-benar saya rasakan sejak lima tahun lalu sampai saat ini. Ya, sampai saat
ini...
17 DESEMBER 2007
Mungkin saya
bisa mulai bercerita di mulai dari tanggal ini. Ya, ini adalah satu hari
berselang setelah hari ulang tahun saya yang ke-15 tahun. Saat itu saya belum
sedikitpun memikirkan anak kecil itu, tapi ada satu kejadian yang membuat saya
kaget, heran dan malu pada diri saya sendiri. Bermula ketika saya ingin
berangkat sekolah, tiba-tiba dia menawarkan untuk memberi tumpangan. Disitu
jantung saya rasanya berhenti berdetak. Dalam hati saya mengatakan “bagaimana
bisa? Dia orang yang saya benci bisa begitu baik?” saya sempat tertegun
sebentar, sebelum tersadar dengan pertanyaannya yg kembali terulang “mau bareng
ga?” dan saya memutuskan untu menerima tawarannya.
Semenjak hari
itu, saya terus menerus memikirkannya. Saya pikir perasaan ini akan menghilang
karena kebencian yang saya miliki cukup besar pada saat itu. Tapi entah mengapa
justru saya semakin senang memikirkannya. Akhirnya saya pun memutuskan
mengikuti kata hati dan biarkan semuanya mengalir... dan semejak hari itu saya
terus-menerus memerhatikannya dari hari kehari. Setiap harinya saya selalu
memandanginya dibalik jendela, menunggu dia pulang dan selalu tersenyum ketika
melihatnya sudah berada didalam pengelihatan saya ((:
AGUSTUS 2008
Saat perayaan
17 Agustus, di tempat tinggal saya selalu mengadakan acara lomba yg diakhiri
dengan malam puncak (semacam malam penghargaan) dan ini agustusan pertama yang
saya alami dengan menyimpan perasaan padanya. Saya tidak benar-benar mengingat
bagaimana saya mengajaknya ke dalam kepanitian tapi yang jelas dia ikut berpartisipasi
pada acara ini. Pada tahun tersebut saya dan teman-teman saya memutuskan untuk
membuat konsep pembagian hadiah dibacakan seperti nominasi awrad yang sering
diadakan di beberapa stasiun televisi. Kejahilan teman saya yang mengetahui
perasaan saya terhadap anak kecil ini, sehingga memasangkan saya dengan dia
dipanggung untuk membacakan award tersebut. Saat itu saya senang sekali, dan ya
yang terpenting saya harus mengakui bahwa saya semakin menyukai anak kecil ini.
Oh iya,
hampir aja lupa, tahu gak dibulan ini untuk pertama kalinya saya bisa berbicara
lama bersama anak kecil ini. Awalnya dia dateng ke rumah saya hanya untuk menanyakan
acara lomba buat besok gimana? Tapi lama-lama kita ngobrol banyak. Dan sampe
sekarang saya masih inget gimana ekspresi muka capenya yang baru pulang terus
mandi langsung ke ruma. Pada saat itu saya merasa sedikit bisa membaca dirinya,
tapi belum berani menarik kesimpulan tentang pandangan yang saya dapat. :D
OKTOBER 2008
Pada tahun
ini tuh lagi buming-bumingnya yang namanya friendster (fs) . Terkadang saya
suka ke warnet cuma buat buka friendster aja. Kalau nggak salah ini terjadi pas
tanggal 25 Oktober 2008, dimana ada seorang cewek yang nge-add akun fs saya.
Karena itu dunia maya jadi siapapun yang nge-add pasti saya confrim. Setelah
diconfrim saya bilang “makasih ya udah di add” dan percakapan menyedihkan itu
dimulai! saya nggak begitu inget percakapnnya, tapi yang harus kalian tau cewek
itu adalah pacarnya si anak kecil ini. What the hell maaaan!!! saya suka sama orang
yang udah punya pacar? dan sialnya saya gak tau kalau dia udah punya pacar! parahnya
lagi mereka pacaran udah hampir setahun.. seketika itu juga sya cuma bisa
netesin air mata, padahal itu masih diwarnet dan saya sendirian, gak ada orang
yang saya kenal disana..
Semenjak
kejadian itu, saya perlahan-lahan menarik diri. Karena menurut saya tidak ada
gunanya menyukai seseorang yang sudah mempunyai orang lain didalam hidupnya.
Saya hanya akan membuang-buang waktu. Walaupun berat saya mencoba sedikit demi
sedikit menghindar darinya, tidak lagi memperhatikannya dari balik jendela.
DESEMBER 2008
Setelah
kejadian di bulan oktober, saya tidak begitu memperhatikannya lagi. Wlaupun
sesekali masih suka memandanginya dari balik jendela, tapi saya mencoba
mengatasi perasaan saya terhadapnya. Hal itu cukup berhasil, lambat laun saya
mulai terbiasa melepaskannya. Sampai pada akhirnya dia putus dengan pacarnya.
Haaaaaah? Dan saya pun nangis dengan derasnya!! “Kenapa putus?” “Kenapa harus
sekarang?” “Kenapa setelah gua bersusah payah?” Hanya kata KENAPA dan KENAPA
yang ada dibenak saya. Setelah dia tidak lagi punya pacar, saya mulai berharap
kembali padanya.
JULI 2009
Kayaknya sih
bulan ini dimana saya mulai bisa ngobrol deket lagi sama dia. Oh iya, saya
belom bilang ya, kalau saya dan anak kecil itu punya kebiasaan unik. Kita deket
menjelang agustusan doang. Setiap mau agustusan kita selalu bisa ngobrol kayak
orang yang udah lama saling kenal. Tapi setelah agustusan berakhir ya, kita
lagi-lagi kayak orang gak kenal. Dibulan ini saya dan temen-temen, minta dia
jadi ketua Karang Taruna. Inget banget pada saat itu dia dengan keadaan lepek
dateng ke rumah. haha baru pulang dan langsung diminta jadi ketua. Gak tau deh
waktu itu dia mikir apa. :D
AGUSTUS 2009
Ini adalah
awal bulan termanis semenjak saya menyukai orang ini. Ya, betapa tidak, ini
untuk pertama kalinya saya berangkat bareng ke sekolah sama dia. Pokoknya ini
bener-bener di luar prediksi. ya, bagaimana tidak, saya sedang menunggu angkot
dan tiba-tiba dia datang dan menawarkan tumpangan. Entah apa yang saya pikirkan
pada saat di motor, saya hanya tersenyum simpul dan mencoba mengatasi perasaan
saya, takut dia membaca raut wajah saya yang aneh. Hmmmm hari itu saya mulai
dengan senyuman yang tak henti, rasa senang bercampur rasa tidak percaya
semakin menyinggungkan senyum.
Karena hari
itu pertandingan bulu tangkis akan dilaksanakan pada malam harinya, sebelum
pulang sekolah saya sempat bertemu lagi dengan anak kecil itu. Saya
mengingatkan “nanti malem ya” dan dia tersenyum kecil. Ketika malam hari dia
tak kunjung datang, saya coba menghubunginya dan akhirnya dia datang.
Sebenarnya saya tidak tega membiarkannya main. karna bagaimana tidak, melihat
orang yang kita sayang lelah setelah melakukan aktivitas seharian harus bermain
bulu tangkis pada malam harinya. Tapi saya harus mengenyampingkan perasaan saya
pada saat itu. Maaf dan terimakasih, kata-kata itu hanya saya dengungkan dalam
hati tanpa bisa mengucapkannya langsung.
Senin, 3
Agustus 2009, ya saya ingat betul hari itu. Ini untuk pertama kalinya saya
pergi dengan anak kecil itu. Kami berencana untuk mencetak pin, sebagai nametag
kepanitian tujuh belasan. Hari itu saya menunggu-nunggu agar jam berlalu begitu
cepat, agar saya bisa cepat pergi dengannya. Tapi hari itu, saya dibuat sangat
kesal olehnya. Ya betapa tidak, saya menunggunya dan tidak ada sms masuk untuk
setidaknya memberikan kabar. Akhirnya saya putuskan menunggunya di kelas dekat
lapangan futsal. Saya memberanikan diri untuk mencoba mengirimkannya pesan
singkat. Saya menanyakan “jadi atau tidak untuk mencetak pin.” Jawaban yang
saya dapat tak kalah mengecewakan, karna dia masih menanyakan “mau nyetak dimana?”
Dan saya menjawab dengan nada agak ketus (kalau ngomong langsung sih pasti
nadanya ketus) “kan kemaren gua udh bilang di UI” tanpa membalas pesan saya,
tiba-tiba dia sudah berada diparkiran motor. Parkiran motor terlihat jelas dari
tempat saya menunggu, dia sudah melihat saya. Dia menggerakan kepalanya sebagai
tanda untuk meminta saya turun. Masih dengan perasaan kesal, sambil menggerutu,
saya mulai memakai tas dan berlari kecil menghampirinya.
Setelah
samapai dihadapannya saya merasa sedikit canggung. Rasa kesal yang masih
tersisa membuat saya tidak begitu memperhatikannya. Saya menanyakan, “bawa helm
dua?” Dia hanya menggelengkan kepalanya, dan kekesalan saya pun semakin
bertambah. Didalam hati saya meradang “astaga orang ini benar-benar menyebalkan”
saya mencoba mengontrol nada suara saya, agar tidak terdengar kesal, saya hanya
bertanya “gpp gak pake helm?” dan dia menganggukan kepala. Okey, saya mulai
menaiki motornya dan kita pergi. Baru sebentar berjalan, saya yang sedikit
melamun tersadar akan teriakan yang memanggil nama saya “diniii” dan saya terkaget.
Ternyata anak kecil ini yang memanggil
nama saya begitu keras. Mungkin dia sudah memanggil-manggil beberapa kali, tapi
saya tidak mendengarnya. Saya sempat tersenyum sedikit sebelum kembali kesal
dengan pertanyaan yang dilontarkan. “Kitama kemana nih?” Dengan nada yang agak
berubah saya menjawab “kan tadi udah bilang mau ke UI” dan dia nanya lagi
“nggak ada tempat yang lebih deket?”makin kesal saya dibuatnya “gua gak tau! Tapi
klo lo tau yang lebih deket yaudah kesitu aja” dan dengan polos dia berkata “gua
juga gak tau, yaudah ke UI aja” melihat dia sedikit melunak saya berkata “Eh
tapi kata temen gua ada di deket bolo-bolo beiji, lo tau?” Dia hanya
menganggukan kepala.
Sesampainya
di bolo-bolo beiji dia hanya menunjukan ini bolo-bolo tanpa menghentikan laju
motornya. Dan saya pun hanya tersenyum dan sepertinya dia tidak mau berhenti
disitu. Dan kami melanjutkan perjalanan sampai ke stasiun UI. Saya tidak tahu
pasti tempat untuk mencetak pin itu berada dimana. Akhirnya saya menemukan
tempat mencetak pin, dan ternyata pinnya gak bisa ditungguin, harus diambil
besok. Tiba-tiba saya refleks hanya melihat wajahnya dan seketika itu juga dia
bilang “kenapa ngeliatin gua?” terus siapa yang mau ngambil? “emang anak perlengkapannya
gak ada?” belom sempet saya menjawab dia langsung nanya “emangnya diambil
kapan?” besok, bisa ga? “yaudah” dengan muka yang ikhlas gak ikhlas kayaknya,
tapi gua seneng liat ekspresi mukanya yang kayak gitu.. hehe
Setelah
selesai di tempat pembuatan pin, kami pun langsung kembali ketempat parkiran
motor, tapi sebelum sampai ketempat parkiran motor ada satu kejadian yang
sampai saat ini hal itu masih seperti mimpi. Kejadian seperti ini saya pikir
hanya ada di film-film, ya percaya atau tidak saya mengalaminya. Jadi, kita
memarkir motor di sebuah stasiun, kami melewati rel untuk mencapai tempat
pembuatan pin. Ketika kami ingin kembali ke tempat parkir motor, ada sebuah
kereta yang sudah siap melintas. Bel sudah berbunyi, saya memutuskan untuk menghentikan
langkah, karena saya menggunakan rok panjang saya takut kalau keserimpet saat
berlari. Tapi dia bergegas sambil berlari menyebrangi kereta itu, dan alhasil
kami ada di dua sisi yang berbeda. Sambil menyimpulkan senyum kecil dia bilang
“ayoo”, tapi saya tetap tidak berani, saya membalas dengan senyuman kecil dan
gelengan kepala sambil melihat kearah kereta yang siap melaju. Kereta pun
melaju, kami pun berada di tempat yang berbeda, dia menunggu saya disebrang
sana, dan saya hanya tersenyum tak percaya bawa kejadian ini ternyata bisa saya
alami bersama anak kecil ini ((:
Kereta terasa
begitu cepat melaju, dan menyadarkan saya dari lamunan lucu memikirkan tentang
hal itu. Setelah itu kami pun jalan bersama lagi menuju tempat parkir, dan
disitu ada pertanyaan saya yang sangat aneh dan seharusnya tak perlu saya
tanyakan terhadapnya. “bayar parkir seribu kan ya?” dan dia bilang “iya”, dan
saya pun menyahut “yaudah pake ini aja” sontak diapun berkata “gua ada kali”
dan disitu saya baru sadar bahwa kata-kata tersebut tak seharusnya saya
tanyakan. Harusnya saya langsung aja bayar parkir tanpa harus menanyakan hal yg
sedikit bodoh -___-
Mungkin hari
ini memang hari dimana kenangan-kenangan akan terukir, bagaimana tidak ada saja
kejadian yang membuat saya semakin tersipu. Pada saat saya mau menaiki motornya, mungkin
dia belum siap, tapi saya sudah memberikan kode dengan memegang pundaknya, kami
hampir jatuh, untung saja dia masih bisa menahan motornya. Saya pun langsung
minta maaf “sorry-sorry, kirain udah siap” dan dia menjawab “eh gpp
kok,.......” saya tidak betul-betul mengingat dialognya tapi jawabannya membuat
saya tenang. Sepanjang perjalanan kembali ke sekolah, kami tidak terlalu banyak
mengobrol. Hanya sesekali dan itu tidak begitu penting, hanya menanyakan mau
kemana lagi, rasanya saya mau menjawaaaab..... hahaha... tapi sesampainya
disekolah, sifatnya kembali berubah. Seolah seperti orang yang tidak saling
mengenal dia meninggalkan saya dan berlalu begitu saja. Saat itu saya mencoba
untuk tetap tersenyum, setidaknya saya sudah menghabiskan sedikit waktu
bersamanya ((‘:
Selama bulan
agustus ini saya banyak menghabiskan waktu bersama dengannya, walaupun
kebersamaan kami memang untuk keperluan kepanitian tujuh belasan saja, tapi itu
sudah cukup berarti untuk saya. Pada saat menjelang perayaan malam puncak,
panitia berencana membuat suatu apresiasi seni. Dan akhirnya pada kesempatan ini
saya bisa bernyanyi bersamanya, dia bermain gitar dan saya bernyanyi. Memang
tidak benar-benar berdua, tapi saya sangat menikmati ketika dia memainkan
alunan gitar. Rasanya malam itu, saya tidak ingin mengakhirinya. Saya ingin
malam itu berhenti, tapi saya tidak dapat menghentikan waktu. Seperti biasanya,
setiap acara selesai ketika kami bertemu diluar, terkadang ada satu benteng
yang membatasi. Kami seperti orang yang tak saling mengenal. Entah mengapa hal
ini selalu terjadi, padahal saya ingin sekali bisa berteman dengannya dan
mengenalnya lebih baik. Tapi mungkin s aya hanya bisa mengenalnya dengan cara
seperti ini, dengan sikap yang sepertinya memberi arti, tapi saya tak pernah
mengetahui arti sikapnya.
SEPTEMBER 2009
Kalau tidak
salah mengingat dibulan ini ada acara pembubaran panitia di rumah saya.
Acaranya memang hanya bakar-bakar, tapi karena pada saat itu bertepatan dengan
bulan ramadhan kami baru memulai acara sehabis sholat teraweh. Tadinya saya
berpikir dia tidak akan datang, karena sore harinya saya melihat dia pergi.
Perasaan sedih langsung datang menghampiri dan hanya bisa berharap bahwa dia
akan kembali sebelum kami selesai melakukan acara bakar-bakar. Dan akhirnya
rasa sedih berganti dengan senyum yang tersimpul diwajah saya, karena melihat
dia sudah datang ke rumah saya sebelum yang lain datang. Acara bakar-bakar pun
dimulai dan dia dan teman saya yang membakar ayam-ayam tersebut. Melihatnya
seperti itu, rasanya dia seperti koki ahli yang sedang mempraktekan cara masak
hehe.. setelah selesai maka, tiba-tiba kami semua membicarakan hal-hal yang
horor. Tak berapa lama, tiba-tiba dia berdiri dan berkata akan pulang sebentar,
tetapi pada akhirnya dia tak kembali. Hmmmmm tapi saya sudah merasa senang
bahwa dia bisa datang ke rumah saya.
Setelah saat
itu kami kembali seperti orang yg tidak saling mengenal. Yeah, like stranger
for each other ((‘:
MARET 2010
Siapa yang
akan menyangka bahwa saya bisa mengucapkan “happy birthday” secara langsung
kepada anak kecil ini. Ya, 13 Maret itu adalah tanggal lahirnya. Pada saat itu,
saya terkejut dia datang ke sekolah, karena itu adalah hari sabtu, dimana
setiap hari sabtu sekolah diliburkan. Tetapi untuk anak kelas XII hari itu ada
motivasi menjelang UN. Pada saat itu saya sedang duduk di kelas XII dan dia di
kelas XI. Saya melihat dari kejauhan bagaimana dia sedang bersama
teman-temannya. Dengan baju yang basah, entah basah habis diceburun ke kali
(kebiasan sebagian sisawa-siswa sekolah kami kalau ada yang ulang tahun
diceburin ke kali di sebelah sekolah) atau hanya disiram dengan air oleh
teman-temannya. Sambil berjalan menuju kantin, saya memerhatikannya dan bingung
harus bagaimana, apa harus mengucapkan ulang tahun atau berlalu tanpa
mengucapkan apapun. Tapi saat saya berjalan dia melihat saya dan melemparkan
senyuman, saya tersenyum dan langsung memberikannya selamat atas hari jadinya,
kami pun berjabat tangan. Mungkin ini jabat tangan yang pertama kali
dengannya...
Sepanjang tahun
2010 tidak ada kejadian yang begitu spesial anatara saya dengannya, kita sama-sama
menjalani hari dengan kesibukan masing-masing dan seperti biasa seperti orang
yang tidak saling mengenal. Karena pada saat itu saya juga sedang sibuk
mempersiapkan UN, pikiran saya sedikit terlupa terhadapnya. Setelah lulus dari
sekolah menengah akhir intensitas pertemuan saya dan dia pun semakin berkurang,
walaupun rumah saya dan dia berdekatan tapi kami justru jarang bertemu dirumah.
Terlebih lagi saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke daerah Jakarta Barat
yang mengharuskan saya tidak tinggal di rumah. Semenjak saat itu, sulit sekali
saya bisa bertemu dengannya, mengetahui kabarnya itu menjadi hal yang sulit.
Sampai
akhirnya sekitar bulan september atau oktober di tahun ini dia kembali
mempunyai pacar. entah dapet ilham dan keinginan dari mana, pagi-pagi sekali
saya ingin sekali membuka akun facebook nya. Dan disitu tertera ..... is in a
relationship with ..... dan meneteslah air mata saya seketika itu juga.
Menangis terisak-isak dipagi hari dan menahan perasaan sakit yang amat
sangaaat! Saya memeluk bantal dengan erat sambil meradang “kenapa harus buka fb
nya pagi-pagi?” “kenapa harus tau itu sekarang?” “dan kenapa rasanya sakit banget?”
“dia itu bukan siapa-siapa lo din! Lo gak berhak untuk marah dan merasa seperti
ini” tanpa bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan saya, saya
hanya terus menangis dan menangis. Saya mencoba menghentikan air mata saya dan
berusa tidak terlihat jika habis menangis. Karena saya harus berangkat kuliah,
dan saya tidak ingin terlihat sedih. Tapi saya tidak berhasil, di kampus saya
seperti orang yang tidak punya semangat, hal itu benar-benar membuat saya
merasa sangat lemah.
Saya terus
mencoba menguatkan hati saya, hampir setiap malam saya menangis, tetapi saya
bukan tanpa usaha untuk tidak memikirkan hal itu. Namun apa daya, saya tidak
mempunyai cukup daya untuk menghilangkan ingatan saya tentang anak kecil itu.
Saya berusa sekuat tenaga untuk perlahan-lahan mulai melupakannya dengan
mengambil kesibukan di luar dan menghindari waktu untuk sendiri. Karena semakin
lama saya sendirian, ingatan saya tentang anak kecil itu semakin menyiksa.
Hampir
sebulan berselang setelah saya mengetahui tentang hal itu, saya sedikit lebih
tegar dan mencoba benar-benar menghadapi bahwa saya tidak boleh berhenti
seperti ini. Saya harus bisa melanjutkan semuanya, dia tidak boleh membuat saya
seperti ini. Perlahan-lahan saya memulai dari hal kecil dulu, saya tidak boleh
membuka akun facebook dan twitternya, walaupun terkadang hal itu berat saya
coba untuk menghindarinya. Saya tidak mencoba mencari tahu keadaannyanya,
menanyakan bagaimana pacarnya saya mencoba membenahi diri saya sendiri dahulu.
Saya sudah agak kuat untuk menghadapi diri saya sendiri. Pas sekali pada saat
itu band cokelat mengeluarkan single tanpa rasa dan liriknya sungguh memotivasi
saya untuk bangkit. Saya menuliskan penggalan liriknya di status akun facebook
saya “tak ada lagi sedih untuk kehilanganmu, tak ada lagi tangis untuk dirimu,
tak akan ada benci kepadamu semua tentang dirimu semua telah berlalu” saya
menuliskan itu semua dengan penuh percaya diri dan mulai tersenyum, kembali
bangkit menata hidup tanpa harus memikirkannya. Setelah itu saya mencoba
memberanikan diri untuk kembali membuka akun facebooknya, saya ingin menguji
apakah hati saya benar-benar kuat. Tetapi alih-alih saya menguji diri saya
sendiri justru dia yang kembali membuat runtuh dengan semua upaya saya. Di akun
facebook nya tertera “....... is single” saya kembali tertegun beberapa saat,
tak sadar air mata saya terus mengalir dengan derasnya. Tidak tahu apa yang
saya pikirkan tetapi yang pasti saya sedang menangisi diri saya sendiri karena
terus menerus dipermainkan oleh jalan hidup. Ingin rasanya berteriak, dan
berlari kearahnya dan berkata sekencang-kencangnya “kenapaaaaa harus putuuuuus lagi???? Kenapa sekarang? Kenapa gak
nanti-nati aja ketika gua udah bener-bener bisa gak mikirin lo lagi? Kenapa?
Kenapa? Dan kenapaaaaaaa lo seneng banget bikin gua terlihat lemaaaah?”
kembali, kata-kata itu hanya berada dibenak saya semata tanpa bisa saya
ungkapkan kepadanya.
Saya terus
mengatur emosi kekesalan saya terhadap apa yang terjadi. Entah harus marah
kepada siapa, entah harus melampiaskan kemana rasa kecewa yang terus
berkecamuk. Sesaknya melebihi rasa sesak ketika saya tahu dia mempunyai pacar. tapi
saya tetap perempuan lemah yang masih gampang terbawa suasana. Pelajaran hidup
yang terus datang bertubi-tubi tidak begitu siap saya terima, padahal
seharusnya jika saya siap pasti saya tidak akan merasa sekesal ini.
Hari pun saya
lalui dengan membiarkan perasaan saya mengalir kemanapun dia mau, memikirkan
apapun yang pikiran saya mau tanpa mencoba berusaha untuk menghalanginya.
2011...
Pada awal
tahun 2011 saya mencoba mencari tahu nomer telponnya kepada adik kelas saya.
Ketika saya sudah mendapat nomernya, saya bingngung harus berbuat apa. Pada
akhirnya keberanian saya muncul untuk mengirimkan pesan singkat ke nomer
tersebut. Ini percakapannya:
Me: apa kabar
..?
He: baik.
Maaf ini siapa?
Me: ini dini.
Gimana persiapan UN nya?
He: dini yang
mana nih? Lagi proses hehe
Me: dini dpan
rumah .. oh gitu, semangat ya. Semoga lancar UN nya. Lo mau masuk mana?
He: haha iya
makasih. Teknik mesin UI din doain ya
Me: amin.
Semoga lulus ya
tp bukannya lo pernah cerita mau masuk arsitektur ITB ya? Ko ga jd?
He: amin. Iya
tadinya, tp dipikir pikir prospek kerjanya lebih bagus mesin ya mudah2an deh
ada jalan
Me: oh gitu..
semoga dikasih yang terbaik..
Keberanian
yang muncul hanya sebatas menanyakan kabar dan mennayakan hal yang sedikit
klise. Saya bingung bagaimana memulai percakapan, takut dia sedang tidak ingin
membicarakan sesuatu. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mencoba memberi
pesan sampai akhirnya saya beranikan diri lagi pada saat ulang tahunnya.
“happy
birthday ...... best wishes, may Allah bless you ” saya mengirimkan pesan itu tengah
malam dan dia baru membalas di pagi hari “Thanks ya amiin” dan saya hanya
membalas “samasama ... ”
Setelah itu
tak banyak hal yang terjadi, saya sibuk dengan kegiatan saya dikampus dan tidak
mencoba untuk memberikannya sms.
MEI 2011
Pada saat itu
saya sedang sibuk mengurusi satu acara gathering. Disuatu malam, saya
berbincang-bincang dengan teman-teman saya tentang acara tersebut. Saya tidak
begitu mengingat bagaimana awalnya tapi ada kata-kata teman saya yang bilang
“gimana mau tau kalau gak pernah dikasih tau, walaupun udah dikasih tanda, dia
gak akan pernah tau kalau gak kita yang bilang” dan saya juga lupa kata-kata
itu buat siapa. Saya memikirkannya sepanjang malam, saya memikirkan anak kecil
itu. Saya terus menggumam “dia tau gak ya? Tapi kan harusnya dia tahu. Masa sih
gak peka, gua kan udah nunjukin masa harus dikasih tau juga” dan akhirnya jemari
ini mulai mengetik kata-kata di kotak membuat pesan di handphone:
“entahlah,
sbenarnya sata tepat atau tidak mengatakan hal ini skarang. Saya hanya manusia
biasa yg bisa merasakan cinta. Dan anda tau? Rasa itu ternyata saya rasakan
pada anda. Saya hanya brmaksud untuk membuat suasana hati saya lega, karena
sepertinya saya tidak kuat lagi memendamnya. Lebih dari 3th saya menahan
perasaan ini, dan akhirnya hari ini saya harus mengatakannya, karena saya tak
ingin lg berharap pada khayalan belaka. Anda boleh langsung menghapus pesan
ini, maaf apabila saya mengatakan ini diwaktu yg kurang tepat. Mungkin dengan
begini saya akan lebih mudah melupakan anda, karena mungkin kita tak akan
pernah bersama. Sukses ya buat semuanya, semoga selalu diberikan yg terbaik.
Sekali lagi saya minta maaf bila hal ini membuat anda tidak nyaman.”
Saya terus
memegangi handphone saya dan terus memandangi tombol kirim. Sempat lama saya
memikirkannya, karena pasti setiap yang dilakukan pasti ada konsekuensinya.
Akhirnya setelah lama memikirkannya, saya memutuskan untuk menakan tombol
kirim. Padahal jam sudah menunjukan hampir jam 11 malam. Saya menunggu balasan
pesan saya tersebut hingga tengah malam, tapi saya tidak kuat dan akhirnya saya
memutuskan untuk tidur.
Dan pagi
harinya ada sms masuk darinya, awalnya saya ragu untuk membukanya.
Menerka-nerka apa yang akan dia katakan tentang hal itu tapi ini konsekuensinya
bukan? Jadi apapun balasannya saya harus siap...
“amin, sama
sama semoga lo juga sukses ya! Yang bikin gue gak nyaman gue ga tau kalo lo ini
berjenis kelamin apa? Kan kalo laki berabe hehe *becanda oke makasih ya”
Melihat
balsannya yang seperti itu saya tidak memikirkan apapun kecuali mungkin
perasaan hatinya sedang senang. Saya sempat bingung, apakah pesan itu harus
saya balas atau tidak. Tapi saya mungkin memutuskan hal yang salah, saya
membalas pesannya dengan pertanyaan yang sala. Sampai saat ini saya masih
menyesalinya, harusnya pada saat itu saya tidak perlu menanyakannya lagi.
”haha ya kali
klo laki gua sms kaya gitu -,- sorry ya klo emang lo ngerasa beneran ga
nyaman.. oh iya, lo tau kan gua siapa? Hehe”
Pertanyaan
yang terakhir itu yang sampe sekarang gua sesali. Kenapa gua harus benar-benar
memastikan klo dia tau itu gua? astagaaaaa kenapa dan kenapaaaa? Yasudahlah
nasi sudah menjadi bubur san tak akan pernah mungkin saya bisa menarik
pertanyaan itu. Dia pun juga tidak membalas. Pertama kali saya bertemu setelah
saya mengirim pesan ini dia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun.
Dan saya pun memutuskan untuk tidak memikirkannya, karna lagi-lagi ini adalah
konsekuensinya.
Awalnya saya
pikir hal ini akan mudah, karna membiarkan dia tahu mungkin akan cepat untuk
saya melupakannya. Tapi ternyata saya salah, semakin saya mencoba melupakannya justru
semakin sering saya mengingatnya. Setelah itu kembali saya hanya membiarkan
perasaan saya, karna ternyata cara seperti ini juga tak berhasil
mengeluarkannya dari dalam hati.
Tahun ini pun
tidak banyak hal yang saya alami bersamanya, hanya memandangi dan memperhatikan
segala akun social network-nya dan berharap sekaligus berdoa. Ya hanya itu yang
bisa saya lakukan, karena saya tak punya cukup keberanian untuk melakukan hal
yang lain.
2012
Mengawali
tahun 2012, saya tetap berusaha untuk melupakannya, tapi itu tetap menjadi hal
yang sulit bagi saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikan hadiah
di ulang tahunnya nanti. Saya memikirkan hadiah apa yang ingin saya berikan,
sebenarnya hal ini sudah ingin saya lakukan pada ulang tahunnya yang ke-17,
tapi saya urungkan karna saya belum siap. akhirnya saya memutuskan
menghadiahhinya sebuah stik drum. Kebetulan teman saya mempunyai kenalan yang
biasa membuat stik drum. Stik drum tersebut bisa dipesan sesuai keinginan.
Sempat bingung mau diberi motif apa, akhirnya saya hanya menuliskan namanya
dalam stik tersebut ........ ((:
Setelah
memesan stik tersebut, saya pun merasa heran kenapa saya melakukan hal
tersebut. Karena pada saat saya memesan stik tersebut, saya belum tahu
bagaimana caranya memberikan stik tersebut kepadanya. Tapi hal itu akan saya
pikirkan nanti, karna kalau tidak pernah dicoba saya tidak akan pernah bisa
melakukannya. Karena lain waktu belum tentu ada kesempatan yang sama. Pada saat
hari ulang tahunnya saya mengucapkan selamat ulang tahun lewat akun twitternya,
dan yang membuat saya sedih dia tidak membalasnya. Tapi untuk apa bersedih? Toh
dia bahagia bersama teman-temannya.
Stik yang
saya pesan pun datang. Ketika stik itu sudah berada ditangan saya, saya hanya
memandangi stik itu lekat-lekat. Percaya atau tidak saya sudah memesannya dan
stiknya sudah ada didepan mata. Hanya satu yang terbersit, bagaimana saya akan
memberikannya? Sempat terpikir untuk mengirimkannya lewat pos, tapi kalau yang
menerima ibu nya justru akan menambah masalah baru. Saya punya waktu sekitar
satu minggu memikirkan bagaimana cara memberikan stik tersebut, karena seminggu
kemudian saya akan pulang kerumah dan tentunya saya harus memberikan stik
tersebut bagaimana puun caranya.
Akhirnya hari
itu pun tiba, di penghujung bulan maret, tepat tanggal 31. Padahal ulang
tahunnya tanggal 13, tapi saya baru bisa pulang di akhir bulan. Saya masih
bingung bagaimana memberikannya, karena saya belum mempunyai kotak untuk
menaruh stik tersebut. Saya sudah mencoba mencarinya, tetapi sulit untuk
mendapatkan kotak sepanjang itu. Akhirnya saya mengajak teman saya untuk
mencari kotak didaerah depok, dan saya tidak menemukannya. Sampai pukul 7 malam
saya masih belum menemukannya, saya putuskan untuk pergi, tanpa tahu mau
kemana, saya pergi mencari tempat pembuatan kertas kado. Akhirnya saya
menemukan tempatnya, dan saya memohon kepada penjaga tersebut agar mau
membuatkannya. Setelah itu saya menyelipkan sebuah surat didalamnya, saya lupa
bagaimana persisnya isi surat tersebut, tapi maksudnya hanya memberikan hadiah
padanya.
Saya
menunggunya, jam menunjukan pukul 10 malam dia belum juga pulang. Saya
menunggunya di teras rumah, agar saat dia pulang saya bisa langsung
menghampirinya. Saat itu jam terasa begitu lama, saya terus bolak balik tak
kunjung ada tanda-tanda dia akan kembali. Sambil terkantuk-kantuk saya
menungguinya didepan rumah, untung saat itu orang tua saya sudah tidur jadi
tidak ada yang mencurigai kecemasan saya. Akhirnya sebelum jam 12 malam dia
pulang, saat dia membuka pintu pagar dan memasukan motor ke dalam saya bergegas
menghampirinya. Sebelum dia menutup pintu pagar, saya memanggilnya padahal
kalau saja degup jantung saya bisa terdengar itu akan terdengar sangat keras
dan sangat cepat.
Happy
birthday ya, maaf telat. “iya makasih” nih, sambil menyodorkan bungkusan yang
sudah saya bawa. “apaan nih? Kado?” iya, sambil tersenyum saya menjawabnya..
karna tak kuat terlalu lama memandangnya, saya putuskan untuk segera kembali ke
rumah sebelum ada orang yang menyadari. Beruntung saya pergi tepat waktu,
karena tak lama berselang mamanya pulang. Rasa lega sesaat datang tapi diikuti
dengan rasa kegelisahan saya. Saya tidak pernah tahu bagaimana dia akan
bersikap setelah saya memberikan itu.
Keesokan
harinya, saya memandangi rumahnya, berharap dia akan keluar dan menyapa saya
dengan nada yang lembut seperti yang dia lakukan pada tadi malam. Saya duduk di
teras rumah sambil mengerjakan sesuatu, padahal tujuan utama adalah melihatnya
keluar. Sempat muncul sebuah senyum ketika melihat dia keluar mengeluarkan
motor, tapi tak lama senyum itu berubah menjadi sebuah kegelisahan yang sampai
saat ini belum bisa saya jawab. Dia menatap saya lekat-lekat seperti orang yang
penuh rasa benci, setelah menatap saya dengan tatapan tajamnya itu dia langsung
berlalu. Saat itu hati saya gelisah, takut dan terus mencari jawaban akan
sikapnya tersebut. Saya mengingat-ngingat apakah surat yang saya selipkan
didalam kado tersebut membuatnya bersikap seperti itu, atau dia tidak menyukai
kado yang saya berikan. Saya tak bisa menemukan jawaban apapun, sampai saat
ini, ya sampai saat ini.
Tak lama
berselang, kira-kira sebulan setelah saya memberikan kado itu, ada hal yang
membuat saya sangat-sangat terkejut dan tidak habis pikir. Akun twitter
pribadinya mem-block akun twitter saya. Entah apa yang saya pikirkan saat itu,
tapi hati saya terasa sangat sakit dan tidak bisa berpikir apapun. Air mata
bergulir di sudut mata, karena tak kuat menahan sakitnya. KENAPA? SALAH APA
GUA? hal itu yang muncul terus menerus. Saya begitu kesal, marah dan ingin
sekali membenci anak kecil ini. Saya memang berhasil beberapa saat untuk tidak
memerhatikannya, tapi hal itu tak bertahan lama.. karena semakin saya mencoba
untuk membenci saya sadar bahwa saya makin menyukai anak ini. Saya biarkan,
lagi-lagi saya begitu lemah menghadapi anak ini.
Saya ingin
sedikit membahas tentang seseorang yang masuk disela-sela penantian saya kepada
anak kecil ini. Entah berawal dari mana, tetapi tiba-tiba orang ini sudah
berada didalam hati saya. Kita sebut saja dia pria idealis. Dua tulisan di blog
saya sempat membahas tentang orang ini, sebenarnya orang ini bukan orang baru
di hidup saya. Dia teman seperjuangan saya di suatu organisasi. Saya sempat
kaget karena saya menyukai orang ini, tapi saya menikmatinya saja. Awalnya
hanya suka dan tertarik kepadanya, hanya ingin dekat dengannya hal itu sudah
cukup. Tapi pada saat itu perasaan saya terhadap anak kecil itu terlalu kuat
sehingga menutupi rasa suka saya terhadapnya.
Sampai
akhirnya saya menyadari bahwa lebih baik saya melanjutkan untuk menunggunya
saja. Tapi kembali anak kecil ini membuat satu masalah dengan saya. Akun band
nya mem-block saya. Saya hanya ingin bertanya, apa mungkin orang lain yang
mem-bloock akun twitter saya selain dia? Saya tidak begitu mengenal teman-teman
band nya, jadi siapa lagi kalau bukan dia? Kali ini saya tidak menangis, tapi
saya sangat-sangat marah. Saya tidak habis pikir dengan jalan pikirnya sampai
bisa melakukan hal itu, entah apa karena umurnya yang memang masih labil atau
apa tapi pada saat itu saya benar-benar emosi dan tidak mau lagi tahu segala
tentangnya dan kalau bisa tidak ingin pernah bertemu dengan orang seperti ini
lagi.
Setelah
kejadian itu, saya benar-benar menata hidup saya pelan-pelan. Sungguh saya
tidak ingin merasa sakit lagi karena anak ini, saya lelah saya lelah. Sayapun
tak mampu berbuat apa-apa karena lagi-lagi saya tidak bisa berkomunikasi dengan
dia. Jadi mana mungkin bisa saya menanyakan kenapa dia melakukan semua ini.
Karena pada saat itu saya juga memiliki sedikit perasaan kepada pria idealis,
saya mencoba untuk memupuk perasaan saya kepada orang itu. Awalnya memang saya
berharap banyak padanya, tapi ternyata dia hanya membuat saya semakin dalam
menyadari bahwa saya memang sangat-sangat menyayangi anak kecil itu.
Hati saya
semakin lirih bergetar ketika mengetahui anak kecil ini pindah kuliah ketempat
yang dekat dengan kampus saya. Kawasannya masih satu regional, kami sama-sama
berkuliah di daerah Jakarta Barat. Kembali beberapa pertanyaan muncul dibenak
saya dan lagi, saya tak mampu menemukan jawaban apapun.
Lagi-lagi
hati saya selalu membuat pengecualian terhadap anak kecil ini. Entah karena
memang sudah mati rasa, terlalu lemah atau apapun itu yang jelas seberapa keras
saya mencoba melupakan justru saya semakin mengingatnya.mencoba untuk membenci
tapi justru saya semakin menyadari ketika saya membencinya saya justru semakin
menyayanginya. Tak pernah saya mendapatkan jawaban atas semua
pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan semua sikapnya. Tak pernah saya tahu
bagaimana sebenarnya perasaan dia terhadap saya. Kalau ada kesempatan saya
ingin sekali menanyakan semua pertanyaan saya, walaupun jawabannya menyakitkan,
hal itu akan terasa lebih baik dibanding hanya meraba tanpa kejelasan.
Hari ini 17
Desember 2012 tepat lima tahun sudah saya menantinya. Belum ada rasa ingin
menyerah walaupun terkadang rasa lelah dan sakit terue menerus datang, tapi
tampaknya hati saya masih mau menunggu untuknya. Saya memang tak pernah
benar-benar tahu apa yang sebenarnya saya tunggu, mengapa saya menunggu saya
tak pernah tahu dengan benar apa alasannya. Tapi saya menjadi kuat dengan
mengetahui bahwa anak kecil itu masih ada didalam hati saya. Entah seberapa
lama lagi saya dapat menunggu, saya tak pernah tahu apa yang terjadi nantinya,
saat ini saya hanya menjalani apa yang benar-benar saya rasakan saja. Buat saya
tak masalah untuk tetap menunggu, ya walaupun terkadang saya masih suka
mengeluh, tapi saya hanya manusia biasa jadi ketika rasa lelah datang
menghampiri, saya hanya bisa mengeluh. Tapi saat ini tidak lagi, walaupun
sebenarnya saya cukup kecewa, tahun ini dia lagi-lagi tak pernah mengucapkan
kata selamat ulang tahun kepada saya. Tapi, ini jalan yang saya pilih bukan? Jadi
saya harus siap menanggung semuanya.
Semoga suatu
saat akan ada jalannya untuk kita bersama, dan semoga untuk selamanya, ya
selama saya masih bernafas di alam yang fana ini.
Today I love
you more than yesterday
Tomorrow I
will love you more than today
I love you
more and more every day
I love you little boy,
MRA ♥ ((:
No comments:
Post a Comment